Total : 1,688 halaman
Seri Buku : The Queen of The Tearling (#1), The Invasion of The Tearling (#2), The Fate of The Tearling (#3)
Penerbit : Harper Collins Publisher (International), Mizan Publishing (Indonesia)
Seri The Queen of The Tearling bercerita tentang Kelsea yang dari kecil disembunyikan di dalam hutan karena Kelsea adalah pewaris takhta Kerajaan Tearling. Ketika mendekati ulang tahunnya yang ke-17, Kelsea dijemput oleh para Pengawal Ratu untuk menuju Benteng dan mengambil alih tahtanya. Trilogi ini membagi perjalanan Kelsea menjadi 3 babak utama.
Buku Pertama, The Queen of The Tearling menceritakan tentang perjalanan Kelsea dari hutan sampai mengambil alih tahta yang dipimpin sementara oleh seorang Regent, yaitu paman Kelsea sendiri. Dan bukan saja mewarisi Tearling yang ternyata ada di bawah kekuasaan Ratu Merah tapi juga kebobrokan dalam sistem pemerintahannya. Maka dimulailah perjuangan Kelsea dalam menata ulang dan memperbaiki kerajaannya.
Buku Kedua, The Invasion of The Tearling dibayangi dengan ancaman kedatangan Kerajaan Mortmesne yang dipimpin Ratu Merah untuk menginvasi Tearling. Hal ini terjadi karena Kelsea menghentikan pengiriman budak yang menjadi tuntutan Mortmesne setiap tahunnya. Dalam buku ini, ceritanya beratmosfer tegang dan terasa kelam. Alur pun mulai maju mundur seiring dengan Kelsea yang mulai mendapat penglihatan dari masa lalu. Kelsea akhirnya juga menghadapi Ratu Merah dan sosok sang Ratu Merah yang misterius itu perlahan mulai terkuak.
Buku Ketiga, The Fate of The Tearling berkisar tentang Tearling yang berada di bawah pimpinan Mace, yang ditunjuk sebagai Regent oleh Kelsea selama ia ditawan oleh Ratu Merah. Perasaan gue campur aduk tentang buku ketiga yang juga menjadi konklusi dari trilogi ini.
Satu kata untuk seri ini..."berat". Politiknya berat dan romansanya kurang berisi, justru nggak berasa banget. Selain itu, sisi fantasinya cukup lengkap. Ada elemen supernaturalnya. Sistem sihir dalam seri ini berpusat pada dua batu safir yang dimiliki Kelsea sekaligus penanda pemegang tahta Kerajaan Tearling yang sah.
Yang paling menarik dan unik buat gue adalah setting tempat dan waktunya yang diambil dari masa depan dengan tatanan dunia yang benar-benar baru dan dimulai dari awal. Ceritanya mengingatkan gue dengan cerita Bahtera Nuh. Ada banyak resensi literatur yang exciting seperti J.K Rowling dan khususnya menunjuk adanya kelangkaan buku di masa itu. Ya ampun, mimpi buruk banget nggak sih buat kita para kutu buku?
Kelsea sebagai seorang kutu buku, memberi nilai tambah sendiri. I love how nerd she is. Di samping itu, gue salut dengan Kelsea sebagai Ratu dan bagaimana hal pertama yang ia lakukan adalah menghentikan pengiriman budak dan sistem perbudakan. She is smart, cunning and brave. Kelsea nggak sempurna dan punya kekurangannya sendiri. Dia minder dengan fisiknya yang dirasanya tidak cantik. I think this is what makes Kelsea is relatable. Sayangnya, perkembangan karakter Kelsea mentok di buku kedua. For the side characters, I have mixed feelings about them. Mereka yang juga menjadi penambah POV dalam cerita memiliki bagian yang menarik untuk diikuti, walau sayangnya gue nggak melihat esensialnya.
Jujur gue menikmati seri ini dengan kejutan dan plot twists-nya yang menarik walau nggak sampai membuat tercengang. Ending ceritanya masih kurang memuaskan gue sebagai pembaca setia dari buku pertama. Gue mengharapkan lebih untuk akhirnya even I can't expect more concluded ending than that. Walau semua pertanyaan pentingnya sudah terjawab, rasa-rasanya masih banyak missing link.
So, this series might not satisfied me but I definetely enjoyed and actually learned more from it.
♥
♥



Comments
Post a Comment